Tuan
Fadli Zon yang terhormat
Pagi ini
dalam perjalanan ke kantor, saya membaca pernyataan tuan dalam situs berita
online menanggapi fenomena ribuan bunga yang dikirim ke balai kota yang merupakan wujud ungkapan terimakasih
dari warga utk gubernur Ahok. Saya kaget
dengan reaksi tuan terhadap fenomena ini.
Dengan
gampang tuan mengganggap ini pencitraan murahan?. OMG, kata istri ku
menggerutu. Ada baiknya tuan melihat dan membaca fenomena ini
secara utuh, dan tak boleh menilai sesuatu diatas rasa benci yang berlebihan terhadap sosok Ahok.
Saya melampirkan kembali video ribuan bunga
dan ratusan warga yang ingin foto bersama Ahok.
Tuan menuduh kalau ribuan papan
bunga ini dikirim oleh orang
yang sama, dengan motif dan niat politik yang busuk hanya utk menggiring rasa emosional warga . Tidakkah Tuan
tahu , karanagan bunga itu bukan saja dikirim oleh warga warga Jakarta, tetapi juga dikirim oleh warga indonesia yang tinggal diluar
negeri seperti hongkong, perancis, dan masih banyak lagi. lalu apa dasar tuan mengeluarkan kesimpulan pencitraan murahan itu?, Wah sebuah kesimpulan sesat
yang lahir dari cara berpikir tuan yang sesat pula.
Saya
hanya menyayangkan bahwa pernyataan ini keluar dari mulut wakil rakyat, yang seluruh hidupnya ditanggung
oleh uang rakyat. Rakyat yang sudah
ihklas mengeluarkan uang membeli bunga sebagai ungkapan kasih dan sayang untuk
Ahok masih juga dianggap sebagai pencitrahan murahan dan sudah di setting untuk
mengubah persepsi masyarakat terhadap Ahok. Ini adalah bentuk fitnah yang paling keji, dan memuakkan.
Ahok
–Djarot tidak pernah meminta utk dikasihani, tidak pula meminta untuk
dihargai atas jasanya membangun Jakarta ini sedikit lebih maju. Baginya menjadi
pejabat adalah suatu panggilan untuk berkorban melayani warga dengan hati,
tanpa membeda bedakan siapa mereka, apa etnis mereka, apa agama mereka. Tidak.
Inilah Ahok, keteguhan hati dan komitmen hidupnya bisa terlihat dalam aktifitas
kesehariannya di Balai Kota.
Saya
yakin seyakin yakinnya bahwa tuan sebetulnya mengetahui kalau ahok itu
orangnya Jujur, dan berintegritas. Wong dulu tuan separtai dengan beliau, sama
sama duduk sebagai anggota DPR hanya beda komisi.
Selama
tiga tahun memimpin ibu kota, warga Jakarta merasakan banyak manfaat dari
kepemimpinannya. Warga merasa dipenuhi kebutuhannya. Hak mereka utk mendapatkan
akses informasi terutama terkait anggaran juga terpenuhi. Dalam
bayangan saya, atau mungkin juga sebagian warga jakarta baru kali ini Jakarta
memiliki seorang Gubernur yang mati matian berjuang untuk kepentiang warga.
Tentu banyak perubahan yang sudah
terjadi dan dirasakan warga. Sebutlah seperti Kali yang sudah bersih, pelayanan
birokrasi yang cepat, penyebaran KJP dan KJS yang sudah 80% mengena sasaran yaitu warga miskin
berpenghasilan rendah.
Saya
mengajak agar tuan tidak buta hati melihat keberhasilan ini. Perbedaan politik
adalah suatu keniscahyaan dalam negara demokrasi. Saya pada ahkirnya
mengerti bahwa secara politis,
fenomena Ahok_djarot ini adalah bentuk sindiran yang paling keras
untuk kelompok tuan, bahwa Gubernur yang baik,
yang tulus, yang memiliki kinerja baik selalu dikenang dan menjadi pemenang
sejati. Merekalah yang berhasil merebut hati warga, walaupun sebagian dari
mereka berkorban memilih pasangan yang anda usung hanya karna takut tidak masuk
surga.
Satu kekalahan menumbuhkan seribu bunga. Bahwa
Ahok Djarot sudah dinyatakan kalah menurut hitung cepat (Quick count) tetapi
merekalah yang menjadi pemenang sejati. Kenapa? Karna masyarakat jakarta juga
tahu bahwa kekalahan ini adalah hasil dari sebuah proses pertarungan politik yang menjijikkan, dimana Isu SARA berhasil dipolitisir.
Yang
perlu Tuan ingat bahwa kekuasaan itu tidak abadi, namun kejujuran dan
integritas itu akan dikenang sepanjang masa. Ahok Djarot sudah membuktikan itu.
Mestinya anda berbesar hati mengapresiasi akan kehebatan Ahok Djarot bukan
dengan menyindirnya, karna dengan itu masyarakat bisa menilai kualitas dan
kemampuan anda sebagai politisi rendahan yang tak punya integritas bahkan
mungkin saja ada penilaian yang paling
extrim politisi yang tidak punya isi kepala.
Menang
kalah dalam sebuah pertarungan adalah hal yang sangat wajar dan itu pasti
terjadi. Hal paling penting adalah merebut kemenagan itu mesti dengan cara cara
yang demokratis dan bermartabat tidak perlu menghalalkan segala cara termasuk menjual agama.
Mudah-mudahan Tuan disadarkan dengan fenomena ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar