Selasa, 03 Maret 2015

Sepucuk Surat Untuk "sephia" Ku


Sephia’ apa kabarmu hari ini?, semoga kamu baik-baik saja. Kamu tahu kenapa aku tiba-tiba menyapaMu hari ini.  Semalam  suntuk badanku terlilit oleh serangkaian semut yang membuatku  gatal dan bolak-balik menggosoknya dengan olesan minyak tawon. Namun bukan itu sesungguhnya  yang aku mau ceritakan kepadamu..Ada hal yang lebih istimewah yang membangkitkan kegairahan ku, yaitu segerombolan  manusia yang mengatasnamakan diri sebagai  ‘jawat seangkatan”. Kamu tahu apa yang mereka lakukan semalam?
            Sephia, aku sengaja menulis surat ini, untuk menegaskan keberadaan kita sebagai sepasang kekasih yang terlanjur didekap oleh rasa sayang, walau hanya sekedar dalam balutan imajinasi. Saya terinspirasi Oleh kreasi seorang sahabat sejatiku bernama Erminus Eldymar, yang kerap kali mengawang ke lintasan dunia imajinasi yang penuh elok itu. Dalam petualangannya Ia berhasil membawa sesosok keanggunan yang  dipadukan dengan seni  kontemporer yang bernuansa keindahan  itu. Ia selalu memotret kita dengan senyum ketulusan, tanpa ada ruang bagi sebuah pencitraan diri yang berlebihan..
            Dalam kekaguman ku, atas Sahabat ini, tiba-tiba memoriku terbang menyusuri taman tempat kita berbagi cerita, tempat kita membahas karya maha dahsyat seniman  asal Spanyol “Piccaso”.  Kamu pernah menggauli karya  Picaso, dan berusaha menyelaminya dalam dataran perspektif kewanitaan. Ah seandainya Picasso masih hidup kamu pasti menjadi obyek imajinasinya,,,dan barangkali ia menggaulimu dengan seperangkat pena lalui dibumbuhinya dengan cat berwarna biru dan diatas kanvas ia meliukkan tangannya membawa mu kedasar lautan imainasi yang penuh dengan ruang keindahan.
Lho..kok aku ngelantur???. Maaf sephia,,,itulah kelemahanku suka memujimu setinggi gunung Ranaka, dan seindah pemandangan pante pede yang ramah itu. Tapi ahh, semuanya karna ketergesahanku menceritakanmu kepada teman “jawat seangkatan”. Sebutlah Si Mbak Yolan Setiawan yang penuh haru mendengar cerita tentangMu, bahkan ia pernah memimpikan hidupnya seperti kamu yang kaya akan pujian dari ku. Ada lagi jawat yang lain; Rega Baha, sebuah nama yang dipungut dari  kebisingan Jakarta. Kamu tahu?? Ketika untuk pertama kali Ia menawarkan persahabat denganku, Ia berharap ampun untuk  mendapatkan legitimasi atas keabsahan Namanya. Padahal aku tahu, bahwa ia sesunguhnya sedang berada di dunia kemaluannya. Malu untuk menerima kesejatiannya, yang sudah tertanam sejak dalam dekapan ende Momangnya. Dulu kami memanggilnya Ajong,, sebuah panggilan manis,  ketika bersama-sama merasakan nikmatnya senja temaram di taman semyopal II. Tapi entah mengapa,,,ia dibaptiskan kembali  dengan sebutan nama baru yang bagi saya sungguh merupakan sebuah pengingkaran terhadap eksistensinya??
            Ahh lupakan saja si Ajong itu sephia..sesungguhnya aku kangen sama kamu…bukan karna kecantikan mu yang menawan, tapi ada cairan inner beauty mu yang merembes ke sukmaku..Cairan itu jualah yang  menghipnotisku untuk bersujud didepan mu, sambil  membaca sebait lirik puisi kesukaanmu karya Om shakespear:


Once more the ruby-colour’d portal open’d,

Which to his speech did honey passage yield,

Like a red morn, that ever yet betoken’d

Wrack to the seaman, tempest to the field,
Sorrow to shelpherds, woe unto the birds,
Gusts and foul flaws to herdmen and to herds.
. ketika aku membacakan bait puisi ini, tiba-tiba kamu menyuruhku, untuk terbang sejenak ke pantai pasir putih sebelah timur kota Labuan, dimana kita berbagi senyum dalam dekapan langit merah. Nah aku teringat pula sepotong bait puisi Om shakes yang  “Red Sky at morning”  itu. Begini kata om Shakes:

Red sky at night, sailor’s delight

Red sky at morning, sailor take warning

Red sky at night, shepherds delight
Red sky at morning, shepherds warning
          Katamu potongan kata –kata puisi yang terahkir itu menjadi “rule of Thumb’ atas hubungan kita. Masa sih???? Aku semakin ngga ngerti deh, apa hubungan Red sky at morning dengan hubungan kita. Sesejuk kata-kata Om shakes-kah komunikasih kita??? Padahal aku hanya menjangkaui Body mu dengan gumpalan ide yang tercecer berserakan di sungai kali Gondes belakang Dapur Seminari itu.
Sephia
Lupakan saja semua itu,,,aku hanya ingin kamu datang mendampingiku, menyapa jawat seangkatan yang terlanjur Mulutnya berbusa bercerita tentang kita. Aku ingin kamu mendampingiku mengetuk kediaman       Methy Gampur Chantyk, untuk menjadi saksi keabsahan kita sebagai sepasang kekasih, . aku ingin kamu mendampingiku menghadap kraeng tongka      Chepy Ata Mano   sebagai spoker  yang low profile ditengah banjirnya master of ceremony yang bermuka dua itu. Aku ingin kamu menyapa saudariku yang berhati mulya     , Detty Nurak yang setia menunggu kehadiranmu disamping Goa Maria Seminari yang terkenal Serem itu, oh iya Goa Maria itu hasil kreasi sahabat sejati ku Erminus Eldymer yang suka berfantasi liar, bahkan pernah sekali berterbang menggunakan kepakan sayap ayam kampong yang selalu bersiul pagi hari diatas Gubuk kecil penuh kenangan dibelakang Asrama Arnoldus.

Sephia
Aku selalu menunggumu dipersimpangan toko buku Nusa indah, sambil menikmati gorengan jempong yang terkenal gurih itu, barangkali disana kita memulai  merajut hidup bersama mengikuti jejak sepasang senior:     Methy Gampur Chantyk dan Emil Ruman

Salam hangat ku
Nana Phaek.

CATATAN KASIH SEORANG AYAH (2)

REVIEW PELAYANAN RS UMUM DAERAH BEN BOY Senin, 1 Juni 2020, Gea anak kedua kami genap berusia 7 hari.   Pasca kelahiran ia Bersama ibuny...