Senin,
1 Juni 2020, Gea anak kedua kami genap berusia 7 hari. Pasca kelahiran ia Bersama ibunya sudah
Kembali ke rumah dan istri saya melanjutkan proses pemulihan. Harapannya proses
pemulihan ini dirumah lebih baik dan berlangsung cepat .
Pada
catatan kasih ayah kali ini, saya ingin mereview pelayanan pada RS umum Ruteng. Saya mendasari penilaian ini dari pengalaman
istri sebagai pasien pada RS ruteng dari
golongan 3 (pengguna BPJS)
Dalam
sebuah percakapan singkat dengan istri saya, dia menceritakan keluhannya
terkait lambannya para medis dan dokter menangani dirinya sebagai pasien.
pertama , soal durasi waktu
penanganan. Sejak istri saya masuk ruang UGD hingga sampai pada ruang
perawatan, butuh waktu berjam jam. Sekitar jam 4 sore istri saya sudah tiba di
UGD, dan baru mendapatkan ruang perawatan kurang lebih jam 11, malam . normalnya waktu yang dibutuhkan paling lama 2
jam. 4 jam tersisa, istri dan keluarga yang mendampingi dipaksa menunggu dan
bersabar di ruang UGD, mengantri untuk dapat pelayanan berikutnya. Beruntung
istri saya bukan kategori pasien gawat darurat. Saya membayangkan jika pasien
itu dalam kondisi gawat darurat, yang butuh penangan cepat, apa kondisinya bisa
bertahan dengan durasi waktu yang Panjang ini.
Kedua, soal penanganan istri pasca operasi . Dia bercerita bahwa hingga malam
pasca operasi yang berlangsung pada pagi hari, Dia belum diberikan obat penahan
rasa nyeri pada bagian bekas operasinya. Akibatnya istri saya harus menahan
rasa nyeri yang teramat sakit. Saat
mendengar keluhan ini, saya berusaha menelepon adik ipar Lola, untuk
mengingatkan para medis yang bertugas memberikan obat penahan rasa nyeri kepada
istri saya. Beruntunglah para medis yang bertugas memberikan obat itu.
Dua pengalaman diatas merupakan rentetan dari
banyak pengalamaa sedih lain, yang mungkin dialami oleh para pasien, selain
istri saya. Tentu tidak mengabaikan banyak cerita heroic dan juga prestasi yang sudah dicapainya rumah sakit ini.
Saya secara pribadi tetap memberikan apresiasi kepada petugas medis dan para
dokter dirumah sakit umum Ben Boy, yang sudah membantu proses kelahiran anak
saya.
Sorotan
publik terkait buruknya pelayanan pada
institusi Kesehatan pemerintah, seperti rumah sakit, tentu sangat beralasan.
Mengapa? Karna dana operasional dan fasilitas yang digunakan adalah uang rakyat (negara) melalui anggaran dana APBD. Mestinya dari
segi pelayanan harus lebih baik. Adapun sorotan publik (baca kritik) harus
dilihat sebagai masukan untuk segera melakukan pembenahan internal.
Dari pengalaman sedih yang dialami istri saya, point koreksi
yang mau disampaikan adalah pembenahan
internal management Rumah sakit, yakni Soal SOP pelayanan. SOP adalah standar mutu
pelayanan dari sebuah institusi atau Lembaga pelayanan publik. SOP menjadi acuan atau pijakan dari para medis
atau dokter dalam bekerja menangani para pasien dari berbagai golongan. SOP
yang baik akan membantu mengefektifkan pelayanan, dan memastikan semua petugas
medis menjalankan fungsinya masing masing.
Rumah
Sakit Ben Boy,sebagai institusi Kesehatan satu satunya di Kota Ruteng, menurut
saya perlu mengkaji ulang SOPnya. Hal ini sangat penting, agar mutu pelayanan
rumah sakit ini dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu semakin baik. Dan untuk
mewujudkan ini perlu ada sosok kepemimpinan yang memiliki kehendak (baca :
kemauan) untuk mengabdi pada kepentingan umum. Ciri ciri kepemimpinan yang
memiliki kehendak atau kemauan ini adalah berani membongkar tatanan birokasi
lama (old) yang cendrung lamban, dan tidak efektif. Mengubah kultur kerja
birokasi dengan terobosan terobosan baru, seuai dengan perkembangan teknologi.
Contoh Kepemimpinan seperti ini bisa dilihat pada diri Ahok, manta Gubernur
DKI, Jakarta.
Kepemimpinan
yang kuat akan mempercepat proses reformasi dan layanan public yang baik. Pada
Konteks RS umum Ben Boy, hal pertama yang mesti dilakukan adalah pembenahan
manajemen Rumah sakit. Mulai dari penanggung jawab RS, perlu orang yang tegas,
dan bisa kerja yang bisa menerjemahkan visi dan misi RS . berikutnya setelah
ada pemimpin (direktur) RS, langkah selanjutnya harus mengontrol SOP yang ada,
kalau belum efektif perlu ada perbaikan sehingga visi dan misi rumah sakit
tercapai. Ketika manajemen rs kuat dan efektif maka pasti akan berdampak pada
pelayanan. Pelayanan yang baik hanya bisa diukur melalui tingkat kepercayaan
dan kepuasan masyarakt. Kepuasan publik
adalah prestasi rumah sakit, prestasi pemerintah.
Dan untuk mencapai hal ini bupati yang
memiliki tanggungjawab dan kewenangan
penuh harus menempatkan orang yang bisa bekerja dan memenuhi harapan public.
Bupati harus memberi dia target yang harus dicapai, Jika tidak tercapai harus
diganti. Hanya dengan cara ini bisa membawa rumah sakit ini menjadi kebanggaan
publik.
Semoga.
