Minggu, 31 Mei 2020

CATATAN KASIH SEORANG AYAH (2)

REVIEW PELAYANAN RS UMUM DAERAH BEN BOY


Senin, 1 Juni 2020, Gea anak kedua kami genap berusia 7 hari.  Pasca kelahiran ia Bersama ibunya sudah Kembali ke rumah dan istri saya melanjutkan proses pemulihan. Harapannya proses pemulihan ini dirumah lebih baik dan berlangsung cepat .
Pada catatan kasih ayah kali ini, saya ingin mereview pelayanan pada  RS umum Ruteng.  Saya mendasari penilaian ini dari pengalaman istri sebagai pasien pada RS ruteng  dari golongan 3 (pengguna BPJS)

Dalam sebuah percakapan singkat dengan istri saya, dia menceritakan keluhannya terkait lambannya para medis dan dokter menangani dirinya sebagai  pasien.

 pertama , soal durasi waktu penanganan. Sejak istri saya masuk ruang UGD hingga sampai pada ruang perawatan, butuh waktu berjam jam. Sekitar jam 4 sore istri saya sudah tiba di UGD, dan baru mendapatkan ruang perawatan kurang lebih jam 11, malam .  normalnya waktu yang dibutuhkan paling lama 2 jam. 4 jam tersisa, istri dan keluarga yang mendampingi dipaksa menunggu dan bersabar di ruang UGD, mengantri untuk dapat pelayanan berikutnya. Beruntung istri saya bukan kategori pasien gawat darurat. Saya membayangkan jika pasien itu dalam kondisi gawat darurat, yang butuh penangan cepat, apa kondisinya bisa bertahan dengan durasi waktu yang Panjang ini.

Kedua, soal penanganan istri pasca operasi . Dia bercerita bahwa hingga malam pasca operasi yang berlangsung pada pagi hari, Dia belum diberikan obat penahan rasa nyeri pada bagian bekas operasinya. Akibatnya istri saya harus menahan rasa nyeri yang teramat sakit.  Saat mendengar keluhan ini, saya berusaha menelepon adik ipar Lola, untuk mengingatkan para medis yang bertugas memberikan obat penahan rasa nyeri kepada istri saya. Beruntunglah para medis yang bertugas memberikan obat itu.

 Dua pengalaman diatas merupakan rentetan dari banyak pengalamaa sedih lain, yang mungkin dialami oleh para pasien, selain istri saya. Tentu tidak mengabaikan banyak cerita heroic dan juga  prestasi yang sudah dicapainya rumah sakit ini. Saya secara pribadi tetap memberikan apresiasi kepada petugas medis dan para dokter dirumah sakit umum Ben Boy, yang sudah membantu proses kelahiran anak saya.

Sorotan publik terkait buruknya pelayanan pada  institusi Kesehatan pemerintah, seperti rumah sakit, tentu sangat beralasan. Mengapa? Karna dana operasional dan fasilitas yang  digunakan adalah uang rakyat (negara)  melalui anggaran dana APBD. Mestinya dari segi pelayanan  harus lebih baik.  Adapun sorotan publik (baca kritik) harus dilihat sebagai masukan untuk segera melakukan pembenahan internal. 

Dari  pengalaman sedih yang dialami istri saya,  point koreksi  yang  mau disampaikan adalah pembenahan internal management Rumah sakit, yakni  Soal SOP pelayanan. SOP adalah standar mutu pelayanan dari sebuah institusi atau Lembaga pelayanan publik. SOP  menjadi acuan atau pijakan dari para medis atau dokter dalam bekerja menangani para pasien dari berbagai golongan. SOP yang baik akan membantu mengefektifkan pelayanan, dan memastikan semua petugas medis menjalankan fungsinya masing masing.

Rumah Sakit Ben Boy,sebagai institusi Kesehatan satu satunya di Kota Ruteng, menurut saya perlu mengkaji ulang SOPnya. Hal ini sangat penting, agar mutu pelayanan rumah sakit ini dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu semakin baik. Dan untuk mewujudkan ini perlu ada sosok kepemimpinan yang memiliki kehendak (baca : kemauan) untuk mengabdi pada kepentingan umum. Ciri ciri kepemimpinan yang memiliki kehendak atau kemauan ini adalah berani membongkar tatanan birokasi lama (old) yang cendrung lamban, dan tidak efektif. Mengubah kultur kerja birokasi dengan terobosan terobosan baru, seuai dengan perkembangan teknologi. Contoh Kepemimpinan seperti ini bisa dilihat pada diri Ahok, manta Gubernur DKI, Jakarta.  

Kepemimpinan yang kuat akan mempercepat proses reformasi dan layanan public yang baik. Pada Konteks RS umum Ben Boy, hal pertama yang mesti dilakukan adalah pembenahan manajemen Rumah sakit. Mulai dari penanggung jawab RS, perlu orang yang tegas, dan bisa kerja yang bisa menerjemahkan visi dan misi RS . berikutnya setelah ada pemimpin (direktur) RS, langkah selanjutnya harus mengontrol SOP yang ada, kalau belum efektif perlu ada perbaikan sehingga visi dan misi rumah sakit tercapai. Ketika manajemen rs kuat dan efektif maka pasti akan berdampak pada pelayanan. Pelayanan yang baik hanya bisa diukur melalui tingkat kepercayaan dan kepuasan masyarakt.  Kepuasan publik adalah prestasi rumah sakit, prestasi pemerintah.

 Dan untuk mencapai hal ini bupati yang memiliki tanggungjawab dan  kewenangan penuh harus menempatkan orang yang bisa bekerja dan memenuhi harapan public. Bupati harus memberi dia target yang harus dicapai, Jika tidak tercapai harus diganti. Hanya dengan cara ini bisa membawa rumah sakit ini menjadi kebanggaan publik.
Semoga.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CATATAN KASIH SEORANG AYAH (2)

REVIEW PELAYANAN RS UMUM DAERAH BEN BOY Senin, 1 Juni 2020, Gea anak kedua kami genap berusia 7 hari.   Pasca kelahiran ia Bersama ibuny...